Bidang Kader mengadakan Ruang Kajian Intelektual (RKI)  bertemakan “Kader Intelektual Profetik”. Kajian terbuka untuk umum, IMMawan Burhanuddin Robbany sebagai Ketua Umum PC IMM Kota Semarang menjadi pemantik kajian dan diskusi kali ini. Dengan sub pembahasan 1. konsep intelektual profetik pada IMM 2. Ciri kader intelektual profetik dan bagaimana caranya.

Menjadi kader IMM berintelektual profetik, sering dikaitkan dengan dunia gerakan mahasiswa. Mencetak kader yang bisa dikatakan profetik, dalam hal ini kita akan berbicara banyak tentang kader yang memiliki kedekatan spiritual sehingga dapat membantu kita dalam mengungkapkan kompleksitas yang sudah tertanam dalam diri masing-masing. Namun, hal tersebut dapat menjadi sia-sia apabila kita tidak menerapkan dan mengamalkannya. Begitu banyak ilmu yang sudah diberikan dalam materi kajian namun tidak diterapkan dan diamalkan dengan baik. Yang perlu dilakukan selanjutnya yaitu dengan terus-menerus mengembangkan kesadaran terhadap ketidaktahuan.

Mahasiswa harus membuka diri dan pikiran terhadap segala hal baru terutama apa yang belum kita ketahui serta menerimanya sebagai bahan koreksi terhadap basis pengetahuan. Dengan mengembangkan basic skill yang dimiliki dan dapat memberikan manfaat luas baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain.

Disini tugas kita menjaga intelektual profetik, khususnya bagi kader IMM harus bisa yakin sekaligus mendorong orang lain dan terutama diri kita sendiri untuk mulai merubah cara berfikir dan tingkah laku. Dengan cara penghayatan, pengendapan, kesadaran serta penyatuan nilai-nilai yang dapat diterapkan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sebagai omongan atau materi saja didalam forum, namun mampu menerapkan dan mengamalkan. Nyata adanya tentang berapa banyaknya orang yang mengerti atau menghafal, akan tetapi belum bisa menerapkan dikehidupan dan lingkungannya.

Seorang intelektual profetik harus bisa memadukan antara unsur intelektual dengan unsur ketuhanan bagaimana setiap ilmu yang dipelajari harus memiliki aspek-aspek transedental. Islam tidak pernah memiliki kontadiksi dengan sains, sehingga setiap cabang ilmu yang selalu ada memiliki sudut pandang ketuhanan. Ilmu itu saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan serta saling menguatkan. Sudut pandang penyatuan antara intelektual dan profetik inilah yang bisa menjadi jawaban untuk setiap permasalahan sosial yang bukan hanya menuntut untuk dipecahkan, tetapi juga dapat mengetahui mengapa harus dipecahkan bahwa ilmu-ilmu itu saling berkaitan.

Kader dituntut untuk mengembangkan basic skill terlebih sebagai mahasiswa dan satu ikatan. Yang dapat kita lakukan adalah belajar melalui semua hal yang menyajikan ilmu-ilmu bermanfaat dan bisa memanfaatkannya. Bukan sebatas mengembangkan basic dan ideologi sebagai kader, namun juga mampu memahami apa yang telah didapatkan sehingga tidak sia-sia. Sesuai dengan kemampuan masing-masing dan semestinya semua punya kelebihan serta kekurangannya, tinggal bagaimana cara menyikapi agar tidak menjadi permasalahan. Salah satu contohnya yaitu dapat saling melengkapi dari kekurangan-kekurangan kita dan tidak saling menjatuhkan antara pihak manapun. Saling mendukung atau menguatkan antar sesama kader agar terwujudnya sebuah tatanan organisasi yang mampu berkembang dan bersaing dengan sehat. Bagaimana cara kita menjaga hubungan antara sesama kader maupun pimpinan yang memberikan ruang dimana kader dianggap ada dan mampu menciptakan kader profetik itu sendiri.

Apabila tidak ada kader, lantas bagaimana kita mengkader dan mengembangkan organisasi. Mustahil adanya bila suatu tatanan tampah tidak ada anggota didalamnya. Harus mempunyai rasa ingin berjuang dan belajar. Apabila kedua unsur itu mati, mungkin tidak sungguh-sungguh. Sekarang saja banyak yang memilih menjadi mahasiswa saja, kalah dengan magang merdeka "opini". Tidak bisa kita pungkiri  semua punya pilihan masing-masing, tinggal bagaimana mengambil pilihan dan bisa mempertanggungjawabkan.