Tiap orang berhak atas uang yang dimiliknya. Tanpa sadar kamu akan dihadapkan dengan keputusan untuk apa uang akan digunakan, bisa jadi untuk membeli makan kebutuhan pokok ataupun digunakan untuk mengeliminasi barang-barang yang menumpuk dikeranjang di berbagai platform e-commerce.
Acap kali terlintas
bagaimana seseorang dengan mudahnya membeli ini itu ataupun Sebagian orang lebih
memilih hidup berkecukupan dan sederhana. Keputusan dalam hal keuangan yang
berulang akan menjadikan sebuah kebiasaan finansial yang akan berdampak pada
pola hidup.
Kondisi keuangan
dan kebutuhanmu dengan yang lain tentu berbeda. Dalam beberapa tahun belakang muncul
fenomena FOMO (Fear Of Missing Out), gaya hidup FOMO akan mendorong seseorang
untuk membandingkan dirinya dengan orang lain serta akan berdampak pada
perilakunya terhadap kehidupan finansialnya. Ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi
gaya hidup FOMO akan mendesak untuk menggunakan pinjol (pinjaman online) yang mudah
dan lebih fleksibel. Praktisnya ia telah masuk kedalam lingkaran setan yaitu
siklus hutang yang candu.
Morgan Housel
dalam karyanya The Psychology of money mengatakan bahwa mengelola uang
adalah sebuah soft skill yang harus dilatih karena mengelola uang dengan
baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan anda dan lebih banyak berhubungan
dengan perilaku anda. Dan perilaku sukar diajarkan, bahkan kepada orang-orang
yang sangat cerdas.
Kamu bisa
membuat perencanaan keuangan dan menjadikan habit baik untuk kondisi keuanganmu.
Penganggaran untuk keuangan bisa dilakukan dengan mudah dan tidak akan
menghabiskan waktu berjam-jam lamanya. Dengan metode 50/30/20 kamu bisa
mengalokasikan tiap uangmu secara sederhana untuk biaya yang harus dikeluarkan
dan uang yang bisa disisihkan untuk ditabung. Metode ini dipopulerkan dan
diuraikan oleh Elizabeth Warren dalam All Your Worth: The Ultimate Lifetime
Money Plan.
![]() |
| Sumber: United Nation Federal Credit Union (UNFC) |
Dalam aturan dasar harus memperhatikan dan menulis tiap pemasukan yang didapat. Setelah mengetahui berapa banyak pemasukan yang akan disederhanakan kedalam kategori 50/30/20 yaitu; 50% kamu bisa mengalokasikannya untuk kebutuhan (needs), 30% keinginan (want), dan 20% untuk tabungan (saving) atau melunasi utang.
Gunakan 50%
dari uangmu untuk memenuhi kebutuhan. Jika kamu sebagai mahasiswa alokasikan
50% untuk membayar sewa kos bulanan, tagihan listrik, perawatan motor dan bensin,
bahan makanan serta kebutuhan pokok lainnya. Karena kebutuhan tiap individu
berbeda maka alokasikan sesuai kebutuhan masing-masing.
Jika kebutuhan
dasar telah terpenuhi kamu bisa menggunakan 30% untuk hal-hal yang ingin kamu
belanjakan seperti makan di luar, vacation, berlangganan Netflix
dan banyak keinginan yang lain. Dalam hal ini kamu mampu memikirkan hal mana
kamu akan menghabiskan uangmu didalamnya.
Kemudian tersisa
20% bisa kamu sisihkan uang tersebut untuk saving (tabungan), membayar hutang
yang belum terbayar, memulai berinvestasi ataupun dapat menyimpan uang tersebut
sebagai dana darurat.
Dalam prinsip
50/30/20 yang sederhana ini bisa kamu terapkan. Buatlah anggaran pada tiap
bulan ketika kamu dapat pemasukan. Catatlah setiap uang masuk dan keluar,
pakailah spreadsheet atau aplikasi pencatatan keuangan yang dapat mempermudah
untuk tiap perencanaan yang kamu buat. Evaluasikan tiap pencatatan dan pengeluaran
yang kamu lakukan. Jika kebutuhan dasar telah terpenuhi dan tidak ada hutang
yang macet kamu bisa tetap mengalokasikan 30% dari uangmu untuk memenuhi keinginanmu.
Apabila berpegang pada prinsip ini dan lebih bijak dalam mengonsumsi dan bertransaksi
bisa jadi kamu bisa melakukan target 20% untuk saving.

0 Komentar